Kisah tangisan seorang Kondektur

Jayapura siang hari...Panas kerontang sesak oleh wajah-wajah Pemburu Dollar, sibuk berlalu lalang tak tentu arah, Seperti hari kemarin Perutku hari ini sudah  berbunyi minta diisi dan harus secepatnya mumpung penyakit mag ku belum kambuh,  perlahan kudekati sebuahWarung Kopi yang tak jauh dari tempatku biasa nongkrong sesampainya disana tanpa berpikir panjang saya langsung memesan pisang goreng dan secangkir kopi...hmmnn perpaduan yang sempurna..gumanku dalam hati, Tanpa berpikir panjang langsung Kucomot  pisang goreng itu, dan sebuah lagi dan lagi , lalu menenggak sisa kopi di gelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut yang lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh sejatinya adalah kemewahan. 

Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan,  wah-aku memang mesti pandai-pandai berhemat..!
Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang karena bekas jerawat di masa muda. Mata mendelik merah, entah karena muak menahan kantuk atau lepas menenggak minuman keras. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu dan beraroma bacin keringat, adalah modal utamanya untuk jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku.

Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah kunci Inggris. Aku siapkan  di samping pintu bis dengan nafas memburu dan berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini hari. Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya menjilat telingaku.

"Jangan konyol. Dia itu preman"
Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan kuku-kuku panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku menutup hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati begitu tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku dan meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya.

Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma tengik minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala lantas berbalik masuk ke rumah makan Padang. Di sana kulihat ia melempaskan sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan sepiring nasi.

Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku berbisik malu di telinga penjual gorengan itu, " Ngutang dulu, Mbok." hehehe
Mbok Sumi menganguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi terakadang para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin.
Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan mulai meminta ongkos kepada para penumpang.
Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku kesusu turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada masalah, sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini.

Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal.
Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup mata, detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini.

Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang menerjangku, mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang.
Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di dunia, masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada sesosok tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata premen terminal itu, lelaki yang paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin terlindas mobil ketika meloncat menyelamatkanku.

"Kakimu ?" Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi.
Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum
"Selama ini kau sudah begitu baik padaku, " katanya " Lalu apakah aku perlu menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ? Jangan bercanda kawan."
Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero bumi.

Terkadang kita Menghakimi seseorang hanya karena melihat dari penampilan luarnya saja...!!


==============================================================================

Read more

0 komentar :